Minggu, 14 Desember 2008

AFIKSASI BAHASA DAWAN KHUSUS UNTUK

PENGANTAR

Setiap Bahasa di dunia memiliki karakteristik sendiri – sensiri. Sama halnya dengan bahasa Meto’ (Uab Meto’) khususnya Diaelek Amanuban, yaitu bahasa ibu (mother tongue) dari penulis sendiri.

Apa yang dipaparkan dalam tulisan sederhana ini adalah berdasarkan pemahaman penulis sebagai penutur asli Uab Meto’ dan didukung oleh pendapat para ahli. Oleh karena itu semua pikiran dan pendapat serta uraian dalam tulisan ini tidak dapat digeneralisasikan.

Akhirnya penulis menyadari bahwa tulisan sederhana ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritik dan saran masih diperlukan demi perbaikan tulisan ini, terutama para pendahulu yang telah menulis tentang bahasa Meto’, khususnya Dialek Amanuban


Kupang, Januari 2008



AFIKSASI BAHASA DAWAN KHUSUSNYA

DIALEK AMANUBAN

I. Pendahuluan

Sebagai manusia kita membutuhkan bahasa untuk berkomunikasi.. Dengan bahasa kita dikenal., melalui bahasa kita mengerti. , didalam bahasa kita saling mengerti, dan dengan bahasa pula kita saling kenal.

Sejauh ini bahasa didefinisikan oleh para ahli sebagai berikut:

1. Language is a system of arbitrary, vocal symbols which permit all people in a given culture, or other people who have learned the system of that culture, to communicate or to interact (Finocchiaro 1964 : 8)

2. Language is a system of communication by sound, operating through the organs of speech and hearing, among members of a given community, and using vocal symbols possessing arbitrary conventional meanings ( Pei 1966 : 141)

3. Language is any set or system of linguistic symbols as used in a more or less uniform fashion by a number of people who are thus enabled to communicate intelligibly with one another (Random House Dictionary of the English Language 1966 : 806)

4. Language is a system of arbitrary vocal symbols used for human communication (Wardaugh 1972 : 3)

5. Language is any means, vocal or other, of expressing or communicating feeling or thought ….. a system of conventionalized signs, especially words, or gestures having fixed meanings

(Webster’s New International Dictionary of the English Language 1934 : 1390)

6 Language is a systematic means of communicating ideas or feelings by the use of conventionalized signs, sounds, gestures, or marks having understood meanings (Webster’s Third New International Dictionary of the English Language 1961 : 127)

Dari definisi di atas, kita datang pada satu kebenaran bahwa bahasa berbeda satu sama lain. Ia berbeda berdasarkan budaya yang dimiliki oleh daerah tertentu. Bahasa merupakan sistim bunyi yang memiliki arti suka – suka sesuai dengan konvensi sosial seperti yang dikatakan. Pei, (1966) yang dikutip oleh Brown (1987)

Pendapat di atas mendukung penulis bahwa semua bahasa, ternasuk bahasa Meto’, bahasa yang dituturkan oleh orang Timor, mulai dari, wilayah Timor Tengah Utara sampai wilayah Kupang. (Grimes, 2000),

Bahasa Meto’ sendiri memiliki perbedaan-perbedaan sesuai dengan suku etnis yang menuturkannya. Perbedaan-perbedaan tersebut terlihat jelas dari bagaimana mereka menuturkannya. Hal ini oleh Kushartanti dkk (2005: 234) disebut variasi bahasa yang pada umumnya disebabkan oleh faktor geografis, politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Dalam tulisan ini penulis memilih salah satu dialek yang dituturkan oleh masyarakat disekitar daerah Amanuban -Timor Tengah Selatan. Penulis mencoba menguraikan dan memaparkan tata bentuk kata khususnya afiksasi dalam bahasa Meto’, khususnya dialek Amanuban

Afiksasi menurut Nida (1967 : 17) adalah pembentukan kata dengan menambahkan bunyi pada komponen utama atau kata dasar, baik itu di awal kata, di tengah, maupun di akhir kata.

Kata, didefinisikan oleh Hornby (1955 : 137) sebagai bunyi atau kelompok bunyi yang mengekspresikan arti dan membentuk satu unit mandiri dalam bahasa. Kata kemudian dibagi menjadi dua bagian; kata dasar yang kemudian disebut morfem bebas dan kata bentukan yang kemudian disebut morfem terikat. (Adrian, 1988 : 58)

Tarigan (1987 : 20) mendukung pendapat dari Nida (1967) di atas dengan membagi afiksasi menjadi tiga bagian, yaitu :

1. Awalan (Prefiks): Pelekatan bunyi pada awal sebuah kata dasar untuk membentuk kata baru

Contoh dalam bahasa Indonesia:

- me + nyanyi =menyanyi

- di + makan =diminum

- ber + jalan =berjalan

- ter + bawa =terbawa

- pe + ramal =peramal

- dll

2. Akhiran (Suffiks) Pelekatan bunyi di akhir dari sebuah kata dasar untuk membentuk kata baru

Contoh :

- mashur + kan =mashurkan

- peluk + an =pelukan

- ikut + i = ikuti

- derma + wan = dermawan

3. Sisipan (Infiks) : Pewnyisipan bunyi ditengah sebuah kata dasar, untuk membentuk kata baru. Namun dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, tidak ada sisipan (infiks

II. Afiksasi Dialek Amanuban dalam Bahasa Meto’

Bahasa Meto’ menurut Sanga dkk, yang menyebutnya bahasa Dawan (1989 : 1) berasal dari dua kata yaitu : uab yang berarti bahasa, dan meto yang artinya orang – orang yang tinggal di daratan. Jadi Bahasa Meto’ adalah sebuah bahasa yang dituturkan oleh orang – orang yang hidup di daratan dalam komunikasi mereka senari – hari, mulai dari Ambenu (Timor Leste) sampai ke Kupang. Bahasa ini terdiri dari banyak dialek. seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa perbedaan tersebut dikerenakan perbedaan budaya dalam etnis yang menuturkannya

Dalam tulisan ini, penulis mencoba menguraikan dan memaparkan bagaimana kata – kata dalam dialek Amanuban dibentuk, yang disebut dengan proses afiksasi, fungsinya, yaitu apakah proses afiksasi tersebut merubah kelas kata atau tidak, dan makna yang terkandung dalam kata bentukan tersebut.

III. Jenis – Jenis Afiksasi Dalam Dialek Amanuban –Bahasa Meto’

Proses afiksasi dalam bahasa Meto’, khususnya dialek Amanuban, pada umumnya sama dengan proses afiksasi dalam bahasa lain khususnya dalam bahasa Inggris, yang pahami oleh penulis. Dalam proses afiksasi, dialek Amanuban pun mengenal dua jenis proses perubahan kata yang dipengaruhai oleh afiksasi.

Seperti yang dikemukakan oleh Mathew (1974), bahwa:

1. Afiksasi Infleksional

Penambahan morfem terikat pada bentuk dasar yang tidak mengubah kelas kata atau yang dikenal dengan infleksional. (Mathew 1974). Misalnya penambahan morfem terikat –s / - es pada kata benda untuk menunjukan jumlah lebih dari satu.

Contoh 1. : - book + s = books / buku – buku

- student + s = mahasiswa /mahasiswa-mahasiswa

- house + es = houses / rumah – rumah

- bus + es = buses / bis - bis

-dll

Morfem terikat –s/-es juga dilekatkan dibelakang kata kerja khususnya yang mengikuti subyek ketiga tunggal.

Contoh 2: - sit + s = sits / dia duduk

- eat + s = eats / dia makan

- go + es = goes / dia pergi

- study + es = studies /dia belajar

- dll

Dari contoh – contoh di atas terlihat bahwa penambahan morfem –s dan –es sama sekali tidak merubah kelas kata. Misalnya pada contoh yang pertama, sebelum mendapatkan penambahan morfem terikat dibelakangnya, mereka adalah kata benda, dan tetap kata benda walaupun sudah mendapatkan penambahan morfem terikat di belakangnya.

Demikian puila dengan kata – kata pada contoh kedua. Bentuk dasar yang ada adalah kata kerja, dan tetap kata kerja walaupun sudah ,mendapatkan panambahan morfem terikat di belakangnya

Dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, proses perubahan kata jenis infleksional lebih banyak dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya. Kasus ini lebih mirip kausastif. Bentuk dasar dimana morfem terikat dilekatkan pada umumnya adalah kata kerja (verba) dan kata sifat (adjektiva). Contoh – contoh berikut ini adalah pelekatan prefiks pada bentuk dasar yang dipengaruhi oleh subyek:


NO

SUBYEK

BENTUK DASAR

PREFIKS

BENTUKAN

1.


Verba ‘ ah ‘ (makan)




Au’ (saya)

‘ ah ’

‘ u ‘

‘ uah ‘


Ho (engkau)

‘ ah ‘

‘ mu ‘

‘ muah ‘


In (dia, askuline/feminine/banda)

‘ ah ‘

‘ na ‘

‘ nah ‘


Hi’ (kamu, jamak)

‘ ah ‘

‘ mi ‘

‘ miah ‘


Hai (kami)

‘ ah ‘

‘ mi ‘

‘ miah ‘


Hit (kita)

‘ ah ‘

‘ta‘

‘tah‘


Sin (mereka)

‘ ah ‘

‘ na ‘

‘ nah ‘

2


Adjektivca ‘ mas ‘ (cantik/ganteng)




Au’ (saya)

‘ mas ‘

‘ u ‘

‘ umas ‘


Ho (engkau)

‘ mas ‘

‘ mu ‘

‘mumas’


In (dia, maskuline/feminine/banda)

‘ mas ‘

‘ na ‘

‘namas ‘


Hi’ (kamu, jamak)

‘ mas ‘

‘ mi ‘

‘ mimas ‘


Hai (kami/kita)

‘ mas ‘

‘ mi ‘

‘ mimas ‘


Hit (kita)

‘ mas

‘ ta ‘

‘tamas ‘


Sin (mereka)

‘ mas ‘

‘ na ‘

‘ namas ‘






3


Verba ‘ tui ‘ (tulis)




Au’ (saya)

‘ tui ‘

‘ ‘ ‘

‘ ‘tui ‘


Ho (engkau)

‘ tui ‘

‘ m ‘

‘ mtui ‘


In (dia, maskuline/feminine/banda)

‘ tui ‘

‘ n ‘

‘ ntui ‘


Hi’ (kamu, jamak)

‘ tui ‘

‘ m ‘

‘ mtui ‘


Hai (kami/kita)

‘ tui ‘

‘ m ‘

‘ mtui ‘


Hit (kita)

‘ tui ‘

‘ t ‘

‘ ttui ‘


Sin (mereka)

‘ tui ‘

‘ n ‘

‘ ntui ‘






4


Adjectiva ‘ kom ‘ (tamak)




Au’ (saya)

‘ kom ‘

‘ ‘ ‘

‘ ‘kom ‘


Ho (engkau)

‘ kom ‘

‘ m ‘

‘ mkom ‘


In (dia, maskulin/feminin/banda)

‘ kom ‘

‘ n ‘

‘ nkom ‘


Hi’ (kamu, jamak)

‘ kom ‘

‘ m ‘

‘ mkom ‘


Hai (kami/kita)

‘ kom ‘

‘ m ‘

‘ mkom ‘


Hit (kita)

‘ kom ‘

‘ t ‘

‘ tkom ‘


Sin (mereka)

‘ kom ‘

‘ n ‘

‘ nkom ‘

Dalam contoh – contoh di atas, penulis senagaja memisahkan cara penambahan afiks yang dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya. Namun, tidak dapat dijelaskan mengapa beberapa bentuk dasar lain menggunakan bunyi yang dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya, misalnya –u, -m, -n, -t, dan sebagian yang lain mendapatkan tekananan glottis yang memang masih dipengaruhi oleh subyek yang diikutinya

Sedangkan penambahan bunyi – s/-es dalam bahasa Inggris untuk menunjukan jumalah tidak dikenal dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban. Untuk menunjukan jumlah dalam bahasa Meto’ khususny dialek Amanuban justru menambahkan sufiks –nu, -na, -ini.

Tabel berikut menunjukan proses distribusi penggunaan morfem – morfem terikat diatas

NO

MORFEM TERIKAT

(Sufiks)

BENTUK DASAR

(Nominal Tunggal)

BENTUKAN

(Nominal Jamak)

ARTI

(Tunggal – Jamak)

1

{-ini}

  • Oli
  • Tata
  • Feto
  • Naof
  • noah
  • Oil’ini
  • Tat’ini
  • Feot’ini
  • Naofini
  • noahini

adik / adik-adik

kakak / kaka-kakak

saudara / saudara-saudara(pr)

saudara / saudara-saudara(lk)

kelapa / kelapa-kelapa

2.

{-nu}

  • bie
  • hau

  • bienu
  • haunu

Sapi / sapi-sapi

Kayu / kayu-kayu

3

{-na}

  • kulu
  • pulisi
  • laku
  • manu
  • kulna
  • pulisna
  • laukna
  • mauna

Guru / guru-guru

Polisi / polisi-polisi

Ubi / ubi-ubi

Ayam / ayam-ayam

Perubahan dari bentuk tunggal menjadi bentuk jamak dalam dialek Amanuban juga mengalamai proses metatesis seperti yang dikatakan oleh Karus Margaretha dkk (1999:12) dalam penelitian mereka tentang Morfologi Bahasa Dawan. Perubahan tersebut terjadi bila kata nomina tunggal dijadikan nomina jamak. Hal yang sama terjadi juga pada kata nomina yang akan digabungkan dengan adjektiva. Misalnya, ume (rumah) + ana (kecil) akan menjadi uim ana

Selain itu, penambahan bunyi –b pada kata kerja yang menunjukan tindakan yang dilakukan oleh subyek yang menyebabkan orang lain mengalami keadaan yang disebabkannya Contoh – contoh dalam tabel berikut dapat menjelaskannya:

SUFIKS

FUNGSI

SUBYEK

CONTOH

BENTUK

DASAR

BENTUKAN

ARTI

{-b)

Meunjukan

Tindakan

Yang

dilakukan

subyek

menyebabkan

orang lain

mengalami

keadaan yang

disebabkannya

Au’

Ho

In

Hai

Hi

Sin

luki

suse

laka

sesa

leko

bala

ulukib

suseb

nalakab

sesab

lekob

nabalab

merugikan

menyusahkandia menyebrangkan

memaksa

memperbaiki

menyediakan

2. Afiksasi Derivasional

Penambahan morfem terikat pada bentuk dasar yang mengubah kelas kata atau yang dikenal dengan derivasional. (Mathew 1974). Proses perubahan kata pada bagian ini adalah penambahan bunyi pada bentuk dasar yang kemudian merubah kelas kata bentuk dasar tadi menjadi kelas kata lain, misalnya, bentuk dasar verba setelah dilekati dengan bunyi atau morfem terikat tertentu, kemudian menjadi nominal, atau bentuk dasar adjektiva, setelah dilekati dengan bunyi atau morfem terikat tertentu, kemudian berubah menjadi nominal, dll

Contoh :

A. Awalan (Prefiks)

1. Awalan (Prefiks) [a]

Jenis awalan (prefiks) ini memiliki dua fungsi. Yang pertama untuk mengubah kata kerja (kk) menjadi kata benda (kb), dan yang kedua untuk mengubah kata sifat (ks) menjadi kata benda (kb)

Tabel berikut menunjukan contoh – contoh yang mendukung pernyataan tersebut :

Jenis

Awalan/

Kelas kata

Bentuk Dasar

(Verba)

Kata Bentukan

(Nomina)

Fungsi

Arti

[ a- ]

- kk

ks

[biso] ‘pukul’

[hana] ‘masak’(kk)

[ote] ‘potong‘

[ken] ‘tembak’

[lenu] ‘suruh’

[onen] ‘do’a’

[moko’] ‘sombong’

[mae] ‘ malu’

[to’] ‘marah’

[mas] ‘beautiful’

[pehe] ‘malas’

[a’bisot] ‘pemukul’

[a’hanat] ‘pemasak’(kb)

[a’ otes] ‘pemotong’

[a’kenat] ‘penembak’

[a lenut] ‘penyuruh’

[a’onen] ‘pendo’a’

[a’moko’] ‘penyombong”

[a maet] ‘ pemalu ‘

[a to’as] ‘pemarah’

[a masat] ‘yg cantik’

[a pehet] ‘pemalas’

Mengubah -kk menjadi -kb

Mengubah -ks menjadi - kb

Menunjukan pelaku dan sifat yang melekat pada diri seseorang

Contoh – contoh kata bentukan dalam table di atas menunjukan bahwa kata kata bentuk dasar tidak hanya mendapatkan penambahan afiks tetapi juga sufiks yang pada dasarnya bukan disengaja, tetapi memang hal tersebut adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Mengenai sufiks akan dibahas dalam bagian lain

2. Awalan (prefiks) [ma-]

Prefiks ini {ma-}memiliki tiga fungsi. Fungsi yang pertama adalah untuk merubah kata kerja menjadi kata benda. Fungsi yang kedua adalah untuk menunjukan kepemilikan, dan fungsi yang ketiga adalah untuk menunjukan perbuatan yang sama yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dan saling mengenai satu sama lain

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-} yang merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nominal

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[ma-]

Mengubah

kk kb

· Toe

· Ken

· Tuf

· Top

· talu

· matoes

· makenat

· matufus

· matopus

· matalus

· perkelahian

· peperangan

· tinju (n)

· hal menuntun

· penghubungan

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-}

yang menunjukan kepemilikan

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[ma-]

menunjukan kepemilikan

· Noso’

· Ume

· ‘Taka’

· Lone’

· Ama’

· Ma’noso’

· maume

· ma’taka’

· malone’

· ma’ama’

· memiliki baju

· memiliki rumah

· memiliki tanda

· memiliki otak

· memiliki ayah

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh fungsi prefiks {ma-}

yang menunjukan perbuatan yang sama yang dilakukan oleh

lebih dari satu orang dan saling mengenai satu sama lain

PREFIKS

[

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[ma-]

menunjukan saling

· nek

· lomi

· iti

· kiso

· tuf

· Manek

· malomi

· ma’iti

· makiso’

· matuf’

· saling cium

· saling suka

· saling cubit

· saling melihat

· saling pukul

Tabel berikut akan memberikan contuh – contoh prefiks {ma-}

yang menunjukan pasif

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[ma-]

Menunjukan

pasif

· hana’

· lomi

· iti

· kiso

· tufu

· mahana’

· malomi

· ma’iti’

· makiso’

· matuf’

· dimasak

· disukai

· dicubit

· dilihat

· dipukul

    1. Awalan / Prefiks {aka’}

Prefiks ini menunjukan pekerjaan yang dilakukan oleh lebih dari satu orang dan saling mengenai pekerjaan tersebut

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh prefiks {aka-}

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[aka-]

Menunjukan saling tapi lebih dari dua orang

· lili’

· tolo’

· tau

· akalili

· akatolo’

· akatau

· saling ganggu

· saling sembunyi

· saling menakuti

4. Awalan / Prefiks {ha-}

Prefiks ini berfungsi untuk merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata kerja atau verba.

Contoh :

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh prefiks {ha-}

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[ha-]

Merubah kata sifat menjadi kata benda

· niki

· putu

· tane

· nule

· lin

· haniki

· haputu

· hatane

· hanule

· halin

· mendinginkan

· memenaskan

· menguatkan

· melembutkan

· menyenangkan

  1. Akhiran / Sufiks

    1. Akhiran / Sufiks {-en}

Akhiran atau sufiks ini dielkatkan pada beberapa jenis kelas kata yang pada dasarnya menunjukan ‘sudah’.

a). Bila dilekatkan pada akhir kata kerja atau verba maka akan menunjukan bahwa pekerjaan tersebut sudah berlalu / sudah dilaksanakan. Dalam bahasa Inggris pola ini dikenal dengan kata kerja bentuk kedua. Bedanya adalah dalam bahasa Meto’ khususnya dialek Amanuban, waktu tidak menjadi penekanan

Contuh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}yang berfungsi menunjukan pekerjaan yasng sudah berlalu / sudah dilakukan

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI

[-en]

menunjukan pekerjaan yasng sudah berlalu / sudah melakukan. Pekerjaan dimaksud

· nao

· mate

· moni

· simo

· lali

· naoen

· maten

· monien

· simoen

· lalien

· sudah pergi

· sudah meniggal

· sudah hidup

· sudah terima

· sudah jadi

b). Bila dilekatkan bersamaan dengan awalan atau prefiks ma-, maka akan menunjukan pasif dan sudah berlalu / sudah dilakukan

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}

yang digabungkan dengan prefiks {ma-}

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTUKAN

ARTI


[ma-en]

menunjukan pekerjaan yasng sudah berlalu / sudah dilakukan.

· lolo

· biso

· nutu

· simo

· hana

· malol’oe

· mabis’oen

· manut’uen

· masim’oen

· mahan’aen

· sudah disembelih

· sudah dipukul

· sudah diiris

· sudah diterima

· sudah dimasak


c). Bila dilekatkan di belakang kata ganti atau pronominal untuk mempertegas bahwa orang dimaksud sendirilah yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}

yang dilekatkan dibelakang kata ganti

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

KATA GANTI

BENTU

KAN

ARTI

[-en]

mempertegas bahwa orang dimaksud sendirilah yang akan mengerjakan pekerjaan tersebut

· au

· ho’

· in

· hi

· hai

· hit

· sin

· auen

· hoen

· inien

· hien

· haien

· hitien

· sinien

· saya sudah yang kerja sendiri

· kamu sudah yang kerja sendiri

· dia sudah yang kerja sendiri

· Kamu sudah yang kerja sendiri

· Kami sudah yang kerja sendiri

· Kita sudah yang kerja sendiri

· Mereka sudah yang kerja sendiri



d). Bila dilekatkan dibelakang angka untuk menunjukan bahwa penjumlahan sudah mencapai angka tersebut

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}

yang dilekatkan dibelakang angka

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

ANGKA

BENTU

KAN

ARTI

[-en]

menunjukan bahwa penjumlahan sudah mencapai angka tersebut

· mese

· nua’

· tenu

· ha’

· nim

· ne’

· hitu

· meseen

· nuaen

· tenuen

· haen

· nimen

· neen

· hituen

· sudah satu

· sudah dua

· sudah tiga

· sudah empat

· sudah lima

· sudah enam

· sudah tujuh

e). Bila dilekatkan pada kata sifat atau ajektiva, maka akan menunjukan ‘sesuatu telah berubah menjadi wujud lain

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-en}

yang dilekatkan dibelakang kata sifat atau ajekativa

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTU

KAN

ARTI

[-en]

menunjukan bahwa sesuatu telah berubah wujud

· me’

· metan

· muti’

· meto

· mnanu’

· tuka

· mina

· me’en

· metnen

· mut’ien

· met’oen

· mnan’uen

· tuk’aen

· min’en

· sudah menjadi merah

· sudah menjadi hitam

· sudah menjadi putih

· sudah menjadi kering

· sudah menjadi panjang

· sudah menjadi pendek

· sudah menjadi enak




  1. Akhiran atau sufiks {-t / at} dan {-s / as}

Kedua akhiran atau sufiks ini memiliki fungsi yang sama. Itulah sebabnya dibahas dalam bagian yang sama. Proses pembentukan afiksasi jenis ini ada dua cara yaitu, penambahan sufiks {-t / -at ) dan penambahan {-s / as}. Perlu dicatat bahwa tidak ada alasan tertentu yang menjadi syarat dalam pembentukan kedua sufiks ini sebagai pembeda. Hanya penutur asli saja yang mengetahuinya. Fungsi – fungsinya adalah sbb:

a). untuk merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nomina.

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-t / at}dan {-s / as}

yang berfungsi merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nomina

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTU

KAN

ARTI

[-t / -at]

merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nomina

· si

· ken

· mepu

· lo’

· bab

· sen

· lomi

· sit

· kenat

· meput

· lo’at

· babat

· senat

· lomit

· lagu

· senapan

· pekerjaan

· muntahan

· bantuan

· tanaman

· kesukaan

{-s / as}

merubah kata kerja atau verba menjadi kata benda atau nomina

· tup

· tunu

· otu

· tof

· tufu

· tupas

· tunus

· otus

· tofas

· tufus

· hal tidur

· hal membakar

· hal membakar

· hal embersih

kan rumput

· hal meninju




b). untuk merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata benda atau nomina

Contoh :

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-t / at}dan {-s / as}

yang berfungsi untuk merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata benda atau nomina

PREFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTU

KAN

ARTI

[-t / -at]

merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata benda atau nomina

· pehe

· makoe

· malin

· kom

· mafu

· maunu

· mas

· pehet

· makoet

· malinat

· komat

· mafut

· maunut

· masat

· hal malas

· hal rajin

· hal gembira

· hal serakah

· hal mabuk

· hal gila

· hal indah

{-s / as}

merubah kata sifat atau ajektiva menjadi kata benda atau nomina

· to’

· meto

· mate

· toas

· metos

· mate

· hal marah

· hal kurus

· hal mati

D. Akhiran atau Sufiks {-ah}

Akhiran atau sufiks ini berfungsi untuk menunjukan merubah kata kerja menjadi kata keterangan. Sufiks – ah lebih berarti ‘itu saja, tidak lebih’. Sufiks ini pun masih dipengaruhi oleh subyek, karena bentukan dengan pelekatan sufiks ini menunjukan sejauh mana sang subyek melakukan pekerjaan tersebut

Contoh:

Tabel berikut akan memberikan contoh – contoh sufiks {-ah}

yang dilekatkan dibelakang kata sifat dan atau kata kerja

SUFIKS

FUNGSI

CONTOH

BENTUK DASAR

BENTU

KAN

ARTI

[-en]

menunjukan sejauh mana sang subyek melakukan pekerjaan tersebut

· uah

· om

· ntup

· mhake

· maen

· kiso

· nao

· uahah

· omah

· ntupah

· mhakeah

· maenah

· kisoah

· naoah

· hanya makan saja

· hanya datang saja

· hanya tidur saja

· hanya berdiri saja

· lari saja

· hanya lihat saja

· hanya jalan saja

IV. Penutup

A. Kesimpulan

Sebagai penutup tulisan sederhana ini penulis mengemukakan beberapa simpulan sehun\bungan dengan proses pembentukan afiksasi dalam bahasa Dawan Khususnya Dialek Amanuban:

2. Proses pembentukan afikasasi dalam bahasa Dawan hampir sama dengan bahasa Indonesia

3. Banyak temuan yang menunjukan bahwa penambahan afiksasi pada setiap bentuk dasar sangat bervariasi. Kata – kata dalam kelas kata yang sama dapat saja mengalami proses pembentukan afiksasi yang dengan cara yang berbeda walaupun sama fungsinya. Atau sebaliknya, prosesnya sama tetapi fungsinya berbeda

4. Ada pula temuan yang menyerupai infiks tetapi tidak memenuhi criteria infiks yang ada dalam sumber – sumber Linguistik

B. Saran

1. Data yang dipaparkan dalam tulisan ini bukanlah merupakan hasil penelitian yang intensif.

2. Semua yang dipaparkan hanya berdasarkan pengetahuan penulis sebagai penutur asli Uab Meto’ atau bahasa Meto

3. Bila ingin mendapatkan data yang cukup dan valid, seharusnya penulis diberi waktu yang cukup





BIBLIOGRAPHY

Adrian, A, (1986), An Introduction to Language and Communication. Cambrodge University Press

Brown D, (1987), Principles of Language Learning and Teaching, 2nd Edition. Prentice Hall Inc.

Echols J and Sadily H (1975) Kamus Inggris – Indonesia Cornell University Press

Hornby A. S. (1974) Oxford advance Dictionary of Current English. Cambridge University Press

Karus M. et al, (1999) Laporan Hasil Penlitian Morfology Bahasa Dawan. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, P dan K. NTT

Nida E, (1976) Morphology, the descriptive Analysis of Words, 2nd Edition, Michigan University Press

Sanga F (1989) Perbandingan Struktur Bahasa Indonesia dan Bahasa Dawan. Penerbit Undana

Tarigan G. H (1975) Morphology. Penerbit Universitas IndonesiaJakarta

Wardough R, (1972) Intruduction to Linguistics MC Grap Hill Book Company

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar